Posted by: Dede Tisna KS | November 25, 2008

Persepsi……

Ketika ada yang nawarin kue bulet yang bolong-bolong di tengahnya, dengan taburan cokelat atau keju di atasnya…hampir dipastikan semua orang ga akan ada yang menolaknya, tentunya termasuk kita sendiri. So pasti karena makanan tersebut dah terbukti kelezatannya dan hampir semua orang mengetahuinya. Hampir di benak semua orang “melekat” persepsi tentang kelezatan makanan tersebut, sehingga kadang ga merasa cukup dengan hanya menghabiskan satu aja, kalaulah masih dibolehkan untuk nambah sampe setengah lusin pastilah ga akan disia-siakan. Tapi, “maaf”…..pernahkan kita menemukan orang yang iseng nawarin “ee” untuk kita makan? puiiiiiih alih-alih mau memakannya……melihat bahkan mendengarnya aja kita udah oek-oek kaliiii. Why….? Ya karena kita dan semua orang (kecuali anak2 dan yang udeh pikun) memahami bener kalo itu merupakan benda yang najis lah, menjijikan lah, atau banyak mengandung bakteri yang bisa menyebabkan sakit…dan macem-macem lah, tapi satu yang pasti kita akan menolak mentah-mentah, bahkan mungkin kita akan menganggap orang tersebut ga waras.

Dua sikap yang sama……tapi berbeda (halaaaaah). Ya sama2 tegas, spontan ga make mikir dulu…… Tapi beda dalam keputusan yang diambil, yang pertama menerima dengan suka cita dapet makanan yang diyakini lezat, “menyehatkan” badan dan kantong (gratisaaaaan…he he). Yang ke-dua menolak dengan tegas2 karena yakin itu benda menjijikan, bahkan bakal mendatangkan penyakit. Yups..dua sikap yang didasari karena kita memahami benda yang menjadi objek kita.

Tapi coba jika kita ditawari makanan yang sebenarnya makanan tersebut sangat lezat tapi kita ga pernah tahu informasi apapun tentang makanan tersebut, apakah makanan lezat ato mungkin malah bisa meracuni kita. Bagaimana sikap kita? Bisa jadi banyak sikap yang berbeda dari setiap orang. Ada yang cuek masa bodo “gua ga tertarik sama sekali”, ada yang coba2….”kalo lezat ya syukur dapet gratisan, kalo racun……yaaa masih ada Rumah Sakit lah, katanya……” Tapi mungkin juga ada yang bersikap tegas menolak ga mau memakannya, karena dia mempunyai prinsip ogah memakan makanan yang dia belum tahu tentang makanan tersebut.

Itu terkait dengan makanan………Tapi pastinya dalam setiap hal, setiap orang akan berbeda2 sikapnya, tergantung pemahaman/persepsi dirinya terhadap hal tersebut. Termasuk pensikapan kita terhadap kehidupan dunia yang kita jalani ini. Jelas sangat ditentukan oleh pemahaman/persepsi kita terhadap kehidupan dunia ini. Kalaulah kita memiliki pemahaman kehidupan dunia ini adalah materi dan hidup di dunia ini sebagai arena mengejar kepuasan materi semata…….ya begitulah kita menjalani hidup sehari2 hanya untuk mengejar materi. Kebahagian menurut golongan ini adalah terpenuhinya kebutuhan materi sebanyak2nya, walo dengan cara bagaimanapun memenuhinya……kaidah baik-buruk atau halal-haram ga pernah ada dalam hidupnya.

Berbeda dengan golongan orang yang memiliki pemahaman dunia dan seisinya “termasuk dirinya” ada yang menciptakan, yaitu oleh Tuhan. Tapi mereka beranggapan Tuhan hanya sekedar menciptakan saja dan mengatur hal2 yang memang layak diatur oleh tuhan. Tapi terkait dengan kehidupan manusia di dunia…tentulah manusia yang lebih berhak. Maka kaidah baik-buruk, halal-haram ditentukan berdasarkan “konvensi” manusia. Maka tidak heran di satu sisi mereka mengakui keberadaan Tuhan sebagai pencipta tapi di sisi lain mereka menolak keberadaanya ketika terkait dengan masalah pengaturan hidup manusia sehari-hari. Mereka cukup “menengok” Tuhan sewaktu-waktu di kala mereka merasa perlu dengan Tuhan, ato mungkin hanya sebatas memenuhi wujud terima kasihnya karena DIA telah menciptakannya. Tak heran pula banyak orang yang merasa paling dekat dengan Tuhan tatkala berada di tempat2 ibadah, di mesjid-mesjid, di mushola-mushola, di atas sajadah, di depan al Qur’an……atau di tempat2 lainnya, tapi ketika mereka keluar atau menjauh dari tempat-tempat tersebut….. keberadaan Tuhan mereka lupakan kembali.

Namun akan berbeda pula dengan golongan orang2 yang memahami bahwa dunia dan seluruh isinya diciptakan oleh Tuhan (Allah SWT), kehidupan dunia ini tidak kekal dan akan ada kehidupan setelahnya…..di mana bahagia tidaknya di kehidupan selanjutnya sangat tergantung dari bagaimana Ia menjalani kehidupan di dunia ini. Di kehidupan yang akan datang Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban kepada kita semua tentang bagaimana kita hidup di dunia. Sehingga orang yang memiliki pemahaman ini dalam menjalani kehidupan di dunia ini akan senantiasa berusaha untuk mengikuti yang diridhoi olehNYA. Supaya ketika dimintai peranggungjawaban nanti dia akan bisa mempertanggungjawabkannya.

Sooooo, makanya supaya kita bisa arif dalam bersikap atau dalam menjalani kehidupan dunia ini kita harus memahami dengan benar tentang kehidupan dunia ini. Supaya kita bisa selamat di kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat nanti……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: